Embun
pagi telah membasahi halaman rumahku. Aku pun segera beranjak dari tempat
tidurku dan menghampiri halaman rumahku. Untuk beberapa menit aku bisa
merasakan udara yang segar. Aku bersyukur ya Allah masih bisa menghirup udara
yang segar ini. Sejenak aku merenungkan kesalahan-kesalahn yang terjadi selama
hidupku dan berharap semoga hari ini lebih baik dari hari sebelumnya.
* * *
Hari ini hari yang sangat menyenangkan
bagiku karena, semuanya dimulai dengan senyuman, keramahan hati, dan kasih
sayang keluargaku. Namaku Risa Dwi Putri. Aku mempunyai adik bernama Putri
Safitri. Kebetulan kami satu sekolah di SMK Negeri 1 Riau. Sekolah favoritku
pastinya. Jam sudah menunjukkan pukul 06:30 kami pun bergegas berangkat ke
sekolah.
* * *
Dari jauh kami sudah mendengar bel
berbunyi. Kami berlari sekuat tenaga untuk mencapai gerbang, tetapi gerbang
sudah ditutup. Kami berusaha membujuk pak satpam untuk membukakan gerbang,
tetapi tetap saja tak mau. Untung saja ada kak Reno yang membantu kami. Ia
mengizinkan kami masuk. Kak Reno adalah kakak kelasku dan ia anak yang
mempunyai sekolah ini. Baru saja ingin mengucapkan terima kasih kakaknya sudah
pergi. Baiklah nanti saja jika aku bertemu dengannya aku akan mengucapkan
terima kasih.
Aku pun tiba di kelas dan langsung
bercerita kepada sahabatku mengenai apa yang aku alami. Ternyata kami belum
masuk hanya saja gerbang sudah ditutup.
“Ana,
Helni kalian tahu tidak?” tanya aku.
“Tahu
apa Ris”
“Tadi
sewaktu gerbang ditutup pak satpam tidak mengizinkanku masuk, tetapi datang kak
Reno yang mengizinkanku masuk,” jawab aku.
“Kenapa
bisa Ris?” tanya sahabat Risa.
“Aku
juga tidak tahu, tetapi yang aku tahu kak Reno sangat baik,” ujar aku sambil
tersenyum.
Bel masuk berbunyi kami pun bersiap-siap
untuk belajar. Aku pun mempersiapkan buku dan alat tulis yang digunakan. Ibu
Saripah sudah datang untuk mengajarkan kami. Proses belajar mengajar berjalan
dengan baik. Siswa sangat aktif bertanya dan guru hanya membimbing. Bel
istirahat berbunyi.
“Kring
kring kring kring”
“Ris,
kita mau kemana?” ujar Helni.
“Aku
ingin ke perpustakaan,” jawabku.
“Baiklah.”
Sesampainya di perpustakaan yang
terlintas dipikiranku hanya kejadian yang tadi aku alami. Aku terus berpikir
sampai aku lupa membuka sepatu dan masuk ke perpustakaan menggunakan sepatu.
“Aduh”
ujarku.
Aku menabrak tembok dan semua orang yang
ada di perpustakaan menertawakanku bahkan guru dan sahabatku ikut tertawa. Tak
habis sampai disitu. Tiba-tiba salah satu guru masuk ke perpustakaan dan melihat
perpustakaan tersebut kotor. Aku pun pura-pura tidak tahu karena, sudah pasti
aku yang membuat perpustakaan ini kotor. Aku langsung membersihkan pasir-pasir
yang berada didekatku. Alhamdulillah guru itu hanya menyuruh siswa untuk
membersihkannya.
Aku ingin keluar perpustakaan itu
secepatnya karena, jika aku semakin lama disana banyak masalah yang terjadi.
Baru saja ingin keluar dari perpustakaan salah satu guru menghentikanku dan
langsung melihat dari atas sampai bawah penampilanku. Takut yang aku rasakan
waktu itu. Guru itu pun langsung memarahiku karena, aku memakai sepatu ke
sekolah maaf bukan ke sekolah, tetapi ke perpustakaan. Semua siswa yang ada di
perpustakaan tertawa sepuas-puasnya. Aku benar-benar malu dan tak tahu harus
bicara apalagi.
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar